Setahun Pasca Gempa Lombok, Progres Recovery Hunian Warga Terdampak Capai 80 Persen

60

Setelah setahun pasca terjadinya gempa bumi di Lombok Barat, 29 Juli 2018 lalu, capaian progres recovery untuk hunian tempat tinggal warga terdampak, kini dilaporkan telah mencapai 80 persen.

Capaian itu didasarkan pada angka rumah terdampak yang mencapai 72.222 unit, meliputi, 13.942 rumah rusak berat, 12.668 rusak sedang dan 45.612 rusak ringan.

Sebagai upaya recovery, pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama ini telah mengalokasikan anggaran dengan kategori, Rp 50 juta untuk rusak berat, Rp 25 juta untuk rusak sedang dan Rp 10 juta untuk rusak ringan.

Mahayadi (tengah), asisten Kowil Fasilitator BNPB Lombok Barat diapit dua warga korban gempa tahun lalu.

Mahayadi, Asisten Korwil Fasilitator BNPB Kabupaten Lombok Barat mengungkapkan, capaian recovery 80 persen itu telah menyentuh seluruh unit rumah terdampak yang semuanya tersebar di 112 desa di 10 kecamatan.

“Khusus yang rumah rusak berat, saat ini sudah 40 ribu unit yang telah penyerahan kunci (selesai, red). Semuanya merupakan bangunan berjenis Rumah Tahan Gempa (RTG),” ujarnya kepada media Pokja Pemprov Jatim, saat melakukan kunjungan di Dusun Kapek Atas, Desa Gunung Sari, Lombok Barat, Rabu (16/10/2019).

Ditargetkan, pembangunan RTG sebanyak 72.222 unit tersebut, dapat rampung sampai Desember 2019 mendatang.

Setiawati, Ketua Kelompok Fasilitator BNPB Desa Gunungsari mengatakan, khusus di Gunungsari ada sekitar 100 rumah yang mengalami rusak berat.
Sejak April 2019 lalu, rumah-rumah itu sudah direcovery dengan model RTG.

RTG yang ditawarkan pemerintah, menurutnya, cukup beragam. Mulai dari Rumah Konvesional (Riko), Rumah Sehat Instan (Risa), Rumah Baja (Risba), dan Rumah Kayu (Rika). Namun, rata rata yang diminta warga berupa Riko (Rumah Konvesional).

“Bedanya jauh. Kalau sekarang kita kuatkan di struktur. Besinya pakai yang paling bagus, malah di atas standart yang biasa dipakai masyarakat. Jadi besi 12 yang kita pakai,” imbuhnya.

Warga yang terdampak pun memiliki dua pilihan untuk proses pembangunan rumahnya, yakni, membangun sendiri (swadaya) atau diserahkan melalui suplayer atau developer.

“Luasnya rata rata 6 X 6. Kalau lahanya terbatas, misal 5 X 6 atau 4 X 6, kelebihannya kita belikan keramik. Pokoknya 50 juta harus habis,” jelasnya.

Naserun, salah satu warga Dusun Kapek Atas, Desa Gunung Sari, mengaku senang dan bersyukur setelah rumahnya bisa berdiri lagi pasca diguncang gempa tahun lalu.

“Alhamdulillah saya sangat bersyukur karena sudah tidak lagi tinggal di huntara (hunian sementara),” ujar pria ini sambil berkaca-kaca bahagia. (yus)