Sumpah Pemuda, Khofifah Ingatkan Pemuda akan Tantangan Kompetisi Global

23

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengingatkan para generasi muda Indonesia akan esensi peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari Senin, (28/10/2019) dan diperingati secara bersama oleh segenap bangsa ini.

“Jangan lupa kita pernah berikrar bersama. Bertumpah darah satu tanah air Indonesia, berbangsa satu Bangsa Indonesia, berbahasa satu Bahasa Indonesia. Itu yang selalu kita ingatkan,” kata Khofifah usai menjadi inspektur upacara Peringatan Sumpah Pemuda di Gedung Negara Grahadi.

Bagi Khofifah, Sumpah Pemuda yang digelorakan tahun 1928 lalu tidak berhenti sebatas tiga pernyataan tersebut. Lebih dari itu, Sumpah Pemuda mengamanatkan kepada seluruh generasi penerus bangsa untuk terus memperkuat dan menjaga tiga pernyataan itu.

“Ini tugas kita bersama, bukan cuma pemerintah. Beda pandangan dan pemikiran boleh, tapi pecah, jangan. Persatuan dan kesatuan bangsa adalah yang utama,” imbuhnya.

Khofifah mengakui, tantangan pemuda di tahun 1928 tentu sangat berbeda dengan tantangan pemuda saat ini. Bila dulu pemuda Indonesia bersatu menghadapi penjajah, maka saat ini pemuda Indonesia dihadapkan pada era kompetisi global yang jauh lebih sulit. Maka pemuda Indonesia harus bersatu agar kemajuan dan keunggulan bangsa dapat terwujud.

Melihat perkembangan pemuda sekarang ini, Khofifah mengaku optimistis jika Indonesia bisa berkompetisi memenangkan persaingan global, apalagi jika pembangunan sumber daya manusia bisa terus dioptimalkan.

Khofifah mengatakan, untuk menghadapi revolusi industri 4.0, generasi Indonesia harus adaptif dan berpikir cepat guna menghadapi perubahan teknologi informasi yang masif dan membuat transformasi industri yang lebih visioner.

“Pemuda merupakan ujung tombak bagi bangsa dan negara ini. Saya optimistis Indonesia kedepan bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi baru dunia jika kita optimal memanfaatkan peluang di era digital ini,” ujarnya.

Khofifah mengaku kerap prihatin  melihat banyak generasi muda Indonesia yang seperti kehilangan arah dan jejak sejarah bangsa. Terjebak pada lingkaran konsumerisme, hedonisme, aksi kekerasan dan kenakalan remaja, narkotika, pornografi, radikalisme, dan terorisme.

Jika hal ini terus dibiarkan, tambah Khofifah, maka tidak bisa dibayangkan seperti apa wajah Indonesia di masa yang akan datang. Karenanya, pendidikan moral dan karakter serta iman dan taqwa harus terus digencarkan.

“Anak-anak muda harus menjadi generasi yang berkepribadian kuat dan memiliki prinsip yang kokoh karena mereka pemegang kendali bangsa ini. Saya ingin dan meminta seluruh pihak ikut ambil andil mengawal ini,” pungkasnya. (*)