Refleksikan Sumpah Pemuda, Nganjuk Institute Gelar Diskusi Publik di Warkop

43

Sebagai refleksi peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2019, Nganjuk Institute mengelar acara diskusi publik di Warung Kopi (Warkop) dengan menghadirkan sejumlah tokoh kabupaten, mulai dari Wakil Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi, Wakil Ketua Komisi C DPRD Nganjuk Muh. Fauzi Irwana, dan Rektor IBMT Surabaya, Dr Aris Winarto.

Acara yang digelar di Cafe Sedoehan ini mengambil tema Refleksi Sumpah Pemuda sebagai Semangat Generasi Millenial Kabupaten Nganjuk dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0.

Hendra Wibisono, Direktur Eksekutif Nganjuk Institute mengungkapkan, diskusi publik di warkop kali ini sengaja menghadirkan para pemuda, pejabat, politisi dan akademisi di Kabupaten Nganjuk untuk mendapatkan kajian strategis terkait pembangunan Nganjuk ke depan.

Wabup Nganjuk Marhaen pun mengapresiasi acara tersebut. Ia menilai, diskusi ini termasuk terobosan baru karena mengumpulkan para pemuda untuk berdiskusi langsung dengan pemerintah. “Tentu ini sangat baik, karena ide-ide anak muda ini bisa menjadi masukan buat kami di pemerintah. Kami tunggu langkah kongkrit selanjutnya,” ujar Marhaen.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Nganjuk, juga menyampaikan pentingnya anak muda sebagai motor perubahan. Menurutnya, anak muda saat ini harus berani mengambil resiko untuk menjadi motor perubahan.

“Saat ini Nganjuk sedang menjadi daya tarik tinggi buat investor. Tahun ini saja ada puluhan pabrik-pabrik baru yang akan beroperasi di Nganjuk, ini peluang dan tantangan bagi para pemuda Nganjuk untuk mengambil peran, jangan sampai pemuda Nganjuk hanya menonton saja,” harapnya.

Ia juga mengapresiasi acara diskusi publik kali ini. Ia berharap, semoga ke depan acara-acara seperti ini bisa diadakan lagi agar transferormasi wawasan dari pemerintah bisa langsung ke pemuda” ujar Muh. Fauzi Irwana, yang juga Ketua DPC Partai Demokrat Nganjuk.

Sementara, Rektor IBMT Dr Aris Winarto menekankan pentingnya generasi millenial untuk cepat beradaptasi dengan perubahan global yang saat ini bergerak sangat dinamis dan cepat.
Pergerakan pemuda saat ini, menurutnya, berbeda dengan pergerakan pemuda jaman dulu. Kalau dulu, pemuda bergerak menghimpun persatuan untuk memperjuangkan kemerdekaan, namun saat ini pemuda generasi millenial harus bergerak dan berhimpun untuk menghadapi perubahan dunia global yang semakin dinamis.

Di era revolusi industri 4.0 ini, lanjutnya, para pemuda harus melek dengan teknologi dan harus senantiasa kreatif dan berinovasi dalam berfikir, seperti dengan mengadakan kegiatan seperti di cafe atau warung kopi.

“Ke depan kita akan sering-sering mengadakan kegiatan seperti ini. Tentu, kita akan melakukan gerakan yang berkontribusi nyata dan kongkrit untuk masyarakat Nganjuk. Semoga Nganjuk Institute ini bisa menjadi ladang perjuangan para aktivis pemuda, pelajar, mahasiswa dan alumni putra-putri daerah asli Nganjuk” imbuh M. Dadang Firmansyah, Sekretaris Nganjuk Institute.(*)