Suparyono, Juara I Inovasi Teknologi Agrobisnis tingkat Provinsi Jatim tahun 2018

Suparyono, Berprestasi Berkat Katup Gadis

99

Peralihan musim selalu membuat petambak garam Desa Kalibuntu Kec. Kraksaan Kab Probolinggo resah. Kendala cuaca tersebut membuat produksi garam menurun drastis. Kondisi tersebut membuat Suparyono salah satu petambak garam setempat untuk membuat inovasi agrobis yang disebut Katup Gadis (Buka Tutup, Garam Jadi Super). Inovasi tersebut terbukti mampu meningkatkan produksi garam. Atas upayanya tersebut Suponyono mampu meraih prestasi sebagai juara 1 inovasi teknologi tingkat Provinsi Jatim 2018. Seperti apa?

Tahun 2015 menjadi sebuah titik balik bagi Suparyono. Saat itu musim sedang tidak konsisten dengan garis waktu sehingga petambak garam tidak bisa memastikan betul kapan harus membuat garam. Hal ini membuat garam mengalami kelangkaan bahkan untuk memenuhi kebutuhan garam, masyarakat harus impor dari luar negeri.

Untuk menanggulangi masalah tersebut Suparyono membuat inovasi Katup Gadis. Inovasi itu merupakan sebuah sistem buka tutup (On-Off System) dalam Rumah Produksi Garam (RPG) yang dikembangkan petambak garam. Sistem Katup Gadis tersebut beroperasi dengan cara memanfaatkan terpal plastik. Lahan tambak garam dilapisi dengan terpal untuk bagian bawahnya, kemudian di atasnya diberi penyangga, sebagai tempat terpal lain, menutup lahan di bawahnya.

“Jadi kalau lagi terik, terpal yang diatas dibuka. Tetapi jika hujan datang, maka terpal itu digunakan sebagai penutup garam, yang masih dalam hamparan. Ya, meski musim hujan, kami tetap berpoduksi,”tutur Suparyono yang juga merupakan Ketua Kelompok Petambak Garam Kalibuntu Sejahtera.

Sebelumnya pembuatan garam kristal selalu ditaruh berlantai tanah dan terbuka tanpa adanya penutup, sehingga petani tidak akan memproduksi garam saat memasuki musim peralihan dari kemarau ke hujan.

Dalam proses perjalannya metode Katup Gadis tersebut terbukti mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang cukup signifikan terhadap petambak garam. Biaya pembuatan Katup Gadis juga cukup ringan dikantong, yaitu hanya Rp 2,5 juta.

“Kalau terus diterapkan insyallah kelangkaan garam tidak akan lagi terjadi di Kab Probolinggo. Dengan inovasi tersebut setiap 10 hari sekali kami bisa memproduksi 10 ton garam. Padahal untuk membuat Katup Gadis kami hanya membutuhkan biaya Rp 2,5 juta,”tutur Suparyono.

Dalam memaksimalkan inovasi tersebut, Suparyono mengaku mendapat dukungan penuh dari Dinas Perikanan Kab Ponorogo dan juga pemerintah. Bimbingan dan pengawasan juga didapatnya untuk memaksimalkan inovasi. Dengan keuletan dan                                upayanya tersebut tak heran jika ia mendapatkan penghargaan dari Pemprov Jatim sebagai juara 1 inovasi teknologi di bidang agrobis tahun 2018.

“Saya bersyukur sekali atas dukungan pemerintah. Saya sendiri awalnya tidak menyangka bisa menjadi juara sampai provinsi. Karena misi saya membuat inovasi ini semata hanya untuk meningkatkan produksi garam serta menghindari impor,”pungkas Suparyono. (rni)

Biodata
Nama                    : Suparyono
TTL                      : Probolinggo, 28 Januari 1985
Alamat                 : Desa Kalibuntu Kec Kraksaan Kab probolinggo
Prestasi                 :
– Juara I Inotek tingkat Kab Probolinggo tahun 2018
– Juara I Inotek tingkat Provinsi Jatim tahun 2018
– Jauara I Pelaku Usaha Garam Terbaik dan Teraktif tingkat provinsi Jatim tahun 2018