Dian Harmuningsih ST MM, Koordinator SRPB Jawa Timur

Tak Sekadar Bicara, Tapi Real Action

190
Dian Harmuningsih, Koordinator SRPB Jatim. Foto-foto: Dok. Pribadi

Dian Harmuningsih (41) punya segudang kisah unik dan inspiratif. Beragam proses penempa perjalanan hidup berhasil mengantarkannya menjadi sosok perempuan yang tangguh. Betapa tidak? Selain menahkodai beragam organisasi ternama di Jawa Timur, ia juga dipercaya sebagai koordinator Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB).

BERJUMPA dengan Kak Dian –sapaan akrab Dian Harmuningsih- di lapangan dan di rumah nyatanya jauh berbeda. Jika di lapangan ia terbiasa mengenakan Pakaian Dinas Lapangan (PDL) dengan saku kantong yang melekat dimana-mana, di rumah tak lagi demikian. Ibu tiga anak itu terlihat sangat keibuan (19/6).

Berbicara mengenai wanita tangguh, bagi dia, tak bisa diukur hanya dari kepiawaian dalam bercakap. Namun, lebih dari itu. Perlu ada aksi nyata dan bukti bahwa wanita tersebut benar-benar punya keahlian juga secara keterampilan punya kelebihan. Kak Dian pun telah membuktikan.

Kini, sedikitnya ada tiga organisasi ternama di Jatim yang ia nahkodai dan satu organisasi yang di dalamnya ia termasuk salah satu punggawa. Yaitu; Ketua Brigade Penolong 13 Jawa Timur, Koordinator SRPB Jawa Timur, Ketua Bidang Humas dan Kampanye Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Jawa Timur dan Andalan Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur.

Diantara kelima organisasi itu, terpilih sebagai Koordinator SRPB Jatim adalah hal yang tak bisa ia lupa. “Kalau sampean (kamu) tahu saya waktu itu, saya loh sampai pucat sekali,” celetuknya lantas tertawa sembari menunjukkan beberapa foto kenangan saat Kongres I di Malang 28-29 April 2017.

Dari semua Bakorwil yang hadir, saat proses pengajuan nama bakal calon, semua mengajukan nama Dian Harmuningsih. Walhasil, ia pun terpilih secara aklamasi. Kok bisa? Alasannya berkat keberhasilan dan pembuktian. Istri Moch Loetfi tersebut sukses melakukan tugasnya sebagai ketua panitia dengan persiapan kurang lebih dua minggu. Selain itu, kemampuan administrasi dan jiwa leadershipnya pun tak teragukan.

Dian Harmuningsih bersama Kepala BPBD Prov Jatim Suban Wahyudiono saat mengisi workshop

Dosen kewirausahaan dan komunikasi profesi UIN Sunan Ampel Surabaya ini mengisahkan, terbentuknya SRPB berawal dari undangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur untuk saling kenal sesama relawan. Awalnya, hanya delapan organisasi yang biasa dikenal.

“Akhirnya, saat pertemuan kedua terkoneksi menjadi 23 organisasi dan kami diminta membentuk panitia ad hoc untuk merekap organisasi penanggulangan bencana se-Jatim. Nah, setelah terbentuk panitia terkumpul 48 organisasi. Lalu mengadakan Kongres I dihadiri 85 organisasi dan tercetus nama SRPB. Kemudian perkembangannya di tahun 2018 menjadi 141 organisasi yang terdata sebagai mitra. Dan sampai saat ini jadi 170 organisasi,” tuturnya bangga.

SRPB sendiri, lanjut dia, punya tiga tujuan utama. Ialah; komunikasi, kordinasi dan informasi. Beruntungnya, sesama relawan kini bisa saling mengenal satu sama lain serta ajang saling tumpang tindih posisi bendera pun bisa terminimalisir.

Rajut kebersamaan dengan para relawan di Bali

Aktif Bersosial Berakibat Candu

Sejak kecil, wanita kelahiran 19 April ini memang aktif berorganisasi dan berkegiatan sosial. Ia mengaku, terlahir dari keluarga aktivis shingga dukungan orangtua, mertua dan suami turut mengalir deras. “Keluarga saya memiliki pemahaman semua manusia itu sepadan. Saya ingin jadi manusia bermanfaat karena tidak tahu kapan saya meninggal,” paparnya.

Ia percaya, dengan pengabdian akan menjadikan hidup lebih bernilai. Satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat kebaikan, menurutnya, sudah sangat benar. Mendirikan dan membina panti asuhan, mendirikan dan mengajar Taman Pendidikan Qur’an (TPQ), relawan saat bencana gunung meletus, relawan saat longsor, relawan saat banjir, penanaman pohon dan berbagai kegiatan sosial lainnya sudah sering ia lakoni.

Owner Harmuningsih Institute  ini menyampaikan, jadi orang yang senang bersosial akan berakibat candu. Artinya, semakin banyak berbagi kebaikan, semakin banyak pula kebaikan yang datang. Ia bersyukur banyak hal luar biasa yang terjadi dalam hidupnya.

Kepada anggotanya, ada empat hal yang biasa dilakukan untuk menjaga hubungan emosional; humor, koordinasi (koornya di nasi), meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) serta memanusiakan manusia (menempatkan sesuai karakter dan kapasitas). “Ada teori John C Maxwell yang perlu diingat! Saat kita ingin membentuk tim pemenang, kita harus berani mengupgrade titik mata rantai terlemah,” tegasnya. (fan)