Tiga Stakeholder Siap Bantu BUMDesa

82

Dalam upaya memaksimalkan peran BUMDesa di Jatim, sejumlah stake holder kini dipastikan siap membantu pengembangan BUMDesa.   Komitmen itu setidaknya terungkap dalam talkshow dan temu karya BUMDesa yang menghadirkan narasumber dari BNI, PT. H.M. Sampoerna, dan Bank UMKM Jatim.

SEBELUM acara inti Jambore BUMDesa dan Launching Klinik BUMDesa tahun 2019 dilangsungkan, terlebih dulu dihelat talkshow bertajuk Temu Karya BUMDesa. Agenda yang dimoderatori Kepala Bidang Pemperdayaan Usaha Ekonomi Masyarakat (PUEM), DPMD Kab. Malang, Heru Rudianto itu mengangkat tema “Meningkatkan Perekonomian Jawa Timur melalui Pemberdayaan BUMDesa”.

Hadir sebagai narasumber, Karina Yunita dari Kanwil BNI Malang, Arief Triastika Manager Regional Relation CSR PT. HM Sampoerna dan Najik Umar, Pimpinan Sub Divisi Kredit Bank UMKM Jatim. Forum pun terliat antusias melalui penyampaian tanya jawab peserta dari berbagai unsur perwakilan pengurus BUMDesa dan kepala desa yang hadir.

Sala satunya, Suharto, Kades Ngadirejo Kecamatan Kromengan Kab. Malang yang mengeluhkan kondisi BUMDesnya. Keluhan itu dipicu dari kendala gagal panen yang seringkali menerjang potensi perkebunan kopi di desanya. Ia menuturkan, penyebabnya adalah fenomena perubahan iklim. Sehingga pertanian kopi yang selama ini berjaya hingga di tingkat nasional, semakin surut.

“Di desa kami, petani kopi kesulitan mengelola. Sehingga produksi kopi yang sudah di level nasional semakin berkurang. Mohon bantuan modal dan arahan dari UMKM,” keluhnya di hadapan narasumber.

Kusnadi, Kades Ngadirejo Kecamatan Kromengan, Kab. Malang juga mengeluhkan hal yang serupa. Bedanya, ia secara khusus meminta bantuan mengenai optimalisasi BUMDesa di daerahnya, yang berfokus pada usaha simpan pinjam. Menurutnya, anggaran dana desa yang dianggarkan Rp 150 juta pada 2019 dinilai belum cukup. Sehingga ia meminta perwakilan perusahaan untuk membantu.

Menanggapi hal tersebut, Najik menyarankan agar permasalahan kopi dapat diatasi di dinas perkebunan. Ada program yang secara khusus menangani hal tersebut, yakni program hulu-hilir. Secara khusus, ia meminta untuk mendatangi perwakilan dinas di kabupaten setempat untuk dibantu.

“Insyaallah melalui berbagai program, kita (Bank UMKM Jatim) sudah memberikan kredit banyak. Baik di sektor kerjanya, maupun dari potensinya,” katanya.

Senada dengan Najik, Karina mengatakan pihaknya selama ini gencar memberikan program kredit kepada masyarakat. Bentuknya berupa pemberian pinjaman untuk bidang pertanian, peternakan, perikanan. Jika tergabung dalam kelompok tani, setiap individu bisa memperoleh pencairan dana sebesar Rp 500 juta. Ia juga menyarankan, untuk lebih detail agar ditanyakan di BNI cabang masing-masing.

Keluhan lain datang dari Siandi, Kades Kebontunggul, Kec. Gondang Kab. Mojokerto. Ia menanyakan perihal bantuan yang bisa diterapkan di desanya, terutama dari potensi yang selama ini tersedia, berupa pupuk pertanian.

Menanggapi hal itu, baik Karina dan Najik kompak akan berkomitmen membantu sesuai kapasitas masing-masing. Misalnya, dari BNI, akan disampaikan di cabang Surabaya. Sedang dari unsur UMKM, akan diberikan bantuan berupa permodalan. “Seluruh cabang diharuskan mendampingi bila ada kebutuhan permodalan di masyarakat di Jatim, salah satunya di BUMDes itu. Sebisa mungkin kita bantu,” kata Najik.

Hal yang sama juga diungkap Arief Triastika. Menurutnya pihak Sampoerna memang telah berkomitmen membantu permasalahan BUMDesa. Terlebih lagi, pihaknya dilibatkan langsung dalam penerapan klinik BUMDesa di Jatim. Bantuan tersebut rencananya akan berbentuk pelatihan manajemen, pengelolaan keuangan, maupun bagaimana membantu usaha dari sekarang hingga lebih besar lagi.

“Singkatnya, untuk membantu permasalahan di Gondang akan menjadi masukan dan kami sampaikan kepada mitra kami di Gondang. Dan secara luas di Jatim, bersama DPMD kita ingin terlibat lebih jauh untuk mengatasi permasalahan di Jawa Timur. Semoga bisa menjadi motor penggerak ekonomi di masyarakat di Jatim,” pungkasnya. (frd)