TPA Banjarsari Olah Sampah Plastik Jadi Gas, Listrik, dan BBM

253
Pintu gerbang TPA Banjarsari menyambut setiap pengunjung yang datang. foto: Ulviyatun Ni'mah/derapdesa.id

Bagi sebagian orang, sampah plastik meninggalkan permasalahan. Plastik tidak bisa diurai alam selama puluhan tahun. Namun, di sisi lain keberadaannya sangat dibutuhkan dalam penggunaan sehari-hari.

TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Sampah di Banjarsari, Kec. Trucuk, Kab. Bojonegoro telah menemukan solusi dari permasalahan tersebut. Di sini, sampah plastik diolah dan diproses menjadi berbagai hal yang bermanfaat untuk masyarakat. Yakni, diolah menjadi gas metan, menjadi listrik, dan menjadi solar. Residu yang dihasilkan dari pengolahan sampah plastik itu pun diolah kembali menjadi paving block dan lilin.

Keistimewaan TPA Banjarsari tersebut membawa Ketua TP PKK Provinsi Jatim Arumi Emil Dardak untuk berkunjung, Senin (8/4). Kunjungan ini dilakukan karena saat ini TP PKK sedang melakukan kampanye mengurangi penggunaan plastik.

Bersama beberapa ketua dan anggota TP PKK kabupaten/kota se-Bakorwil Bojonegoro, Arumi melihat lebih dekat TPA Banjarsari dan proses pengolahan sampah yang dilakukan di dalamnya. Istri Wakil Gubernur Jatim itu melihat kompos yang diolah dari sampah dedaunan, meninjau pengolahan sampah plastik yang diproses menjadi gas metan dan energi listrik, serta mengunjungi bank sampah induk Patrol 21 yang di dalamnya terdapat pengolahan sampah plastik menjadi BBM (Bahan Bakar Minyak) berupa bensin, solar, dan minyak tanah.

Arumi saat mengunjungi TPA Banjarsari. Foto: Ulviyatun Ni’mah/derapdesa.id.

Melihat inovasi yang dilakukan TPA Banjarsari tersebut Arumi tidak mampu menyembunyikan kekagumannya. “Ini bagus. Berbagai inovasi pengolahan sampah diurai dijadikan pupuk hingga didaur ulang menjadi gas metan untuk BBM. Keberhasilan ini harus ditularkan ke daerah lain,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro Nurul Azizah yang mendampingi kunjungan Arumi menjelaskan, inovasi pengolahan sampah ini telah diciptakan beberapa tahun lalu. Dia sempat bercerita, dulu masyarakat sekitar sempat protes dan meminta TPA Banjarsari ditutup karena menimbulkan bau yang tidak sedap.

Semua itu berubah setelah Pemkab Bojonegoro membangun sanitary landfill dan memproses sampah menjadi berbagai hal yang bermanfaat untuk masyarakat sekitar. Mantan Camat Kalitidu ini menambahkan, kompos, gas metan, energi listrik, dan BBM yang dihasilkan dari sampah telah dimanfaatkan sebagian masyarakat sekitar TPA.

Alat yang digunakan TPA Banjarsari untuk mengolah sampah menjadi listrik. Foto; Ulviyatun Ni’mah/derapdesa.id.

Dia menjelaskan, ada 40 KK yang memperoleh manfaat dari gas metan yang dihasilkan TPA Banjarsari. Mereka kini tidak langganan LPG untuk memasak sehari-hari. Pihaknya juga meluncurkan inovasi reaktor pirolisis yang mampu mengubah sampah menjadi BBM. Setiap 22 kilogram sampah plastik bisa menghasilkan 10 liter solar. Solar tersebut dimanfaatkan untuk operasional mesin pemotong rumput, dan mesin lain yang digunakan di TPA Banjarsari.

Tak hanya itu, TPA yang dikelola Pemkab Bojonegoro ini juga memberdayakan 82 pemulung dengan penghasilan Rp 35 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. Kerja sama juga dilakukan dengan Dinas Pendidikan. Sekolah-sekolah yang ada di Bojonegoro diarahkan untuk mempelajari pengolahan sampah di TPA Banjarsari. Hasilnya, pada tahun 2018 terdapat 72 sekolah adiwiyata di Bojonegoro.

“TPA Banjarsari telah mendapatkan penghargaan TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik tahun 2016 dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi,” ungkap Nurul. (via)