Catatan 10 Tahun Pakde Karwo Memimpin Jatim (2-bersambung)

Tradisikan Pertumbuhan Ekonomi Selalu di Atas Rata-rata Nasional

83

DALAM satu dekade Pakde Karwo dalam memimpin Jatim, ada satu hal yang terus mampu dijaga dengan baik, yakni, mentradisikan pertumbuhan ekonomi selalu di atas rata-rata nasional.  

Keberhasilan kinerja Jatim di sektor ekonomi memang tak bisa dipungkiri. Selain pertumbuhan ekonomi yang selalu melesat di atas rata-rata nasional, ketahanan ekonomi Jatim juga diyakini cukup kuat karena ditopang industri UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah).

Kendati dalam tiga tahun terakhir, kondisi ekonomi makro kurang mendukung, namun hingga Triwulan II tahun 2018, perekonomian Jatim masih mampu tumbuh 5,57% (year on year). Angka tersebut meningkat sebesar 0,05% dari pertumbuhan ekonomi Jatim pada semester I yang mencapai 5,52 persen.

Kinerja perdagangan Jatim pada Semester I 2018 juga menunjukkan kinerja yang cukup memuaskan dengan mencapai surplus sebesar Rp 57,89 triliun, dimana Net Ekspor Impor Dalam Negeri/Antar Daerah mampu mencapai Rp 101,58 triliun.

Kinerja investasi Jatim selama Semester I 2018 juga relatif cukup bagus. Berdasar realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp. 7,93 triliun, dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp. 16,67 triliun, serta Investasi Non Fasilitasi mencapai Rp 71,35 triliun, sehingga total realisasi investasi Semester I 2018 mampu menembus angka Rp 95,95 triliun.

Dalam empat tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Jatim masih di atas rata-rata nasional. Pada tahun 2015, pertumbuhan ekonomi Jatim mencapai 5,44 persen, sementara nasional masih 4,79 persen. Sebelumnya, Jatim tumbuh 5,86 persen, sedangkan nasional hanya 5,02 persen.

Begitu pula pada tahun 2012 dan 2013. Pertumbuhan ekonomi Jatim pada dua tahun itu, masing-masing mencapai 6,64 persen dan 6,55 persen. Sedangkan nasional hanya mencapai 6,03 persen dan 5,78 persen.

Selain selalu tumbuh di atas rata-rata nasional, ekonomi Jatim juga memiliki andil besar terhadap kontribusi (share) ekonomi nasional. Yakni sebesar 14,47 persen atau terbesar kedua setelah ibukota DKI Jakarta. Share itu di lingkungan provinsi di Pulau Jawa juga berada di urutan kedua, dengan besaran 25,13 persen.

Dengan pertumbuhan yang sangat prestisius ini, Gubernur Pakde Karwo pun optimistis jika Jawa Timur bakal menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi di Indonesia. Karena itu, Pakde berharap, para pengusaha lokal di Indonesia segera melakukan investasi di Jatim. Itu agar mereka tidak didahului oleh serbuan para investor dari negara-negara lain.

Di luar itu, Pakde juga menginginkan Jatim sebagai provinsi industri yang berbasis Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM). Pilihan itu memang sangat realistis, mengingat Jatim merupakan provinsi berbasis agro. Karena itu, pilihan untuk membangun industri primer merupakan langkah yang tepat.

Sekadar diketahui, sekitar 36 persen penduduk Jatim merupakan petani yang hanya mendapatkan share 14 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Para petani itu tidak mungkin bisa memperluas lahan pertaniannya.

Karena itu, pilihan tepat untuk meningkatkan pendapatan mereka adalah, tidak menjual langsung hasil buminya secara mentah, namun harus diolah dan diproses terlebih dahulu agar nilai jualnya bertambah. “Jika sebelumnya petani menjual pisang, ke depan para petani harus menjual hasil pertanian dalam bentuk makanan olahan,’’ saran Pakde Karwo.

Guna mencapai itu, petani didorong untuk mempunyai alat-alat industri guna mengolah hasil pertaniannya. Namun, ia sadar, industri akan sulit berkembang jika suku bunga bank tinggi pada industrilisasi. Karenanya, Bank UMKM Jatim memberikan tawaran suku bunga bank rendah. ‘’Jangan lupa, kemasannya juga harus menarik,’’ sergahnya.

Sarat Prestasi

Selain capaian pertumbuhan ekonomi, kinerja bidang ekonomi Pemprov Jatim selama 10 tahun terakhir juga panen apresiasi dan prestasi. Berdasar rekap perolehan penghargaan yang diterima Gubernur Jatim, Pakde Karwo, sedikitnya 18 penghargaan telah ia terima, mulai dari bidang koperasi, UMKM, hingga pertumuhan ekonomi dan investasi.

Jumlah itu, belum termasuk kinerja sektor perdagangan, industri dan tenaga kerja yang mampu mengoleksi 7 penghargaan dan sektor pangan yang mencapai sebanyak 8 penghargaan.

Dari capaian itu, di tengah kepemimpinannya sebagai Gubernur Jatim, Pakde Karwo juga pernah mendapat apresiasi paling bergengsi di bidang ekonomi dari dunia kampus, yakni, anugerah gelar doktor honoris causa dari Kampus Unair Surabaya.

Penghargaan itu membuktikan, bahwa Pakde Karwo tidak cuma mampu menunjukkan hasil kerjanya dengan realisasi pertumbuhan ekonomi dan investasi, tapi juga bisa mendiskripsikan gagasannya menjadi sebuah teori ekonomi. (yus)