Wagub Emil Sebut Pesantren Bisa Hadapi Tantangan Dunia Kerja

21
Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak ketika menghadiri Reuni Akbar ke-8 Alumni Santri Yayasan PP. Mansya'ul Huda dan Pengajian Haflah Akhirissanah di Pon- Pes Mansya'ul Huda Kab. Banyuwangi, Rabu (10/4) malam. Foto : istimewa

Pondok pesantren berpeluang besar mengatasi tantangan dunia kerja. Itu terjadi jika sistem pendidikan di dalamnya mencakup pemikiran modern yang dipadu dengan kearifan lokal. Serta, adanya perhatian dan usaha dari pemerintah, para kiai, juga stakeholder yang berhubungan dengan pendidikan serta dunia kerja.

Demikian diungkapkan Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak ketika menghadiri Reuni Akbar ke-8 dan Harlah Akhirissunah di Pondok Pesantren Natsya’ul Huda Kec. Tegaldlimo, Banyuwangi, Rabu 10 April 2019 malam. Ia menambahkan, dalam konteks tersebut Pemprov Jatim menerapkan program sekolah Tis-Tas (gratis dan berkualitas) pada anak sekolah.

“Salah satu usaha untuk mengaktualisasikannya adalah melalui peluncuran program sekolah tistas (gratis dan berkualitas) dimulai pada tahun 2019. Tujuan akhirnya untuk menekan angka pengangguran serta meningkatkan IPM di Jawa Timur,” katanya.

Untuk itu, Pemprov. Jatim tengah meluncurkan sembilan program kerja atau yang biasa disebut Nawa Bhakti Satya melalui Bhakti ke-3, yakni Jatim Cerdas dan Sehat. Di samping itu, sebagai upaya meningkatkan kualitas lulusan dan menekan angka pengangguran, pihaknya juga telah meningkatkan jumlah SMK dibanding SMA, yakni dengan prosentase 70 persen : 30 persen. Sedangkan jumlah realisasinya yakni, 60 persen : 40 persen.

Mantan Bupati Trenggalek itu juga menyoroti kurangnya minat kalangan milenial terhadap dunia pertanian dan wiraswasta. Padahal sektor tersebut cukup menjanjikan, mengingat peluangnya yang besar. Sehingga, menghadapi masalah tersebut Pemprov Jatim tengah mengupayakan pembangunan minat di bidang tersebut oleh generasi milenial.

“Jawa Timur akan fokus membangun jiwa wiraswasta bagi generasi milenial, dan yang lebih penting mereka bisa menciptakan lapangan pekerjaan,” bebernya.

Wagub Emil Elestianto Dardak berbincang dengan Gus Solah. Ia menekankan pendidikan berbasis pesantren mampu menjawab tantangan dunia pekerjaan. Foto : istimewa.

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir Pimpinan Ponpes Tebu Ireng, Jombang K.H. Salahuddin Wahid. Ia secara khusus mengatakan, kiprah pendidikan pesantren di Indonesia terlah berlangsung sejak lama. Bahkan ponpes dinilai sebagai lembaga pendidikan tertua. Misalnya Pondok Pesantren Sidogiri yang telah berdiri sejak 1740, sedang sekolah bikinan Belanda baru berdiri satu abad setelahnya, yakni 1840.

Dalam fase tersebut, menurut Gus Solah, perkembangan pondok pesantren relatif lambat. Ponpes kalah maju dibanding sekolah buatan Belanda seperti, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), serta Universitas Airlangga (Unair). Untuk itulah, menurutnya pemerintah memiliki peran membantu kiprah pesantren, yakni dengan menggali kemampuan dan potensi yang dimiliki.

“Pondok pesantren mempunyai potensi besar untuk melakukan kegiatan dan menjawab tantangan dunia kerja. Dengan syarat lulusannya harus jujur, disiplin, pandai bergaul, mencintai apa yang dikerjakan, mempunyai semangat bekerja sama, mampu menjual gagasan, percaya diri, dan  mempunyai semangat untuk maju serta tidak cepat puas,” pungkasnya. (dd-07, hms)