Warisatul Hasanah SE

Waris Sukses Kenalkan Batik Madura ke Pasar Internasional

93

Muda dan sukses. Itulah gambaran dari seorang Warisatul Hasanah. 10 tahun lalu, di usia yang cukup muda, dia mengembangkan batik khas Madura. Usahanya merangkak dari nol. Kini, dia berhasil mendirikan perusahaan yang membuka ratusan lapangan pekerjaan.

Menyandang status pemilik usaha sekaligus perusahaan yang menjangkau lintas benua tidak membuat Waris berubah. Saat mengikuti pameran Jatim Fair 2018, Oktober lalu di Grand City Surabaya, dia tak canggung melayani pembeli yang singgah di stan batik miliknya. Dia juga tak ragu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan para pembeli.

Puspa menemui Waris di tengah-tengah kesibukannya mengikuti pameran. “Hari pertama ke sini menghadiri seremoni pembukaan (Jatim Fair, red) saja. Habis ini langsung ke Jakarta acara pertemuan pengusaha muda se-Indonesia,” ujarnya.

Di usianya yang kini genap 30 tahun, Waris menjadi sosok pengusaha yang layak diperhitungkan. Dia tercatat sebagai pemilik PT Sinar Utama Madura, perusahaan yang bergerak di bidang batik dan berdiri sejak 2013 di Klampis, Bangkalan. Berawal dari usaha rumahan, saat ini Waris mempekerjakan 27 karyawan dan ratusan perajin batik di Bangkalan dan Pamekasan.

“Omzet yang ada di Indonesia sekitar Rp 300 juta hingga Rp 500 juta per bulan. Itu belum yang ekspor,” katanya.

Batik ‘Al-Warits’ tidak hanya memiliki pasar di nasional, pangsa pasar internasional juga telah dirambah. Antara lain Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan.

Batik buatan Waris memang bukan batik biasa. Dia memproduksi batik buatannya dengan teknik khusus. Batik itu ia namakan sebagai batik aromatherapy. Kelahiran batik tersebut berawal dari kepergiannya ke Australia untuk mengikuti Auditing Student Program pada 2008. Di sana Waris mempresentasikan usaha batiknya. Di luar perkiraan, produk batik miliknya tidak mendapatkan respon bagus dari warga Australia.

“Waktu itu saya produksi batik sintetis. Ternyata orang Australia kurang suka karena kurang steril pembuataannnya, baunya tidak enak, dan menggunakan bahan kimia. Pulang dari Australia, di tahun yang sama akhirnya saya buat inovasi agar batik bisa diterima orang asing dan tidak bikin alergi,” kisah Waris.

Untuk menciptakan batik aromatherapy yang diinginkan, istri dari Saifie Asrori ini membutuhkan waktu sekitar 8 hingga 9 bulan untuk bereksperimen. Setiap hari dia pergi ke Tanjung Bumi untuk belajar membuat batik. Setiap malam dia juga bereksperimen di rumah agar wangi batik bisa menempel di kain.

“Saya belajar membuat batik, mengapa warna bisa nempel di kain dan bagaimana biar wangi bisa menempel di kain. Awalnya sempat gagal, mulai batik yang berjamur, belang-belang, warnanya pudar, sampai bau yang terlalu wangi. Harus tahu takarannya seperti apa agar tidak menyengat di hidung tapi tahan lama di kain,” terang bungsu dari empat bersaudara ini.

Setelah perjuangan berbulan-bulan, eksperimennya berhasil. Waris pun memberanikan diri membuka usaha dan memasarkan produknya. Dia mengklaim wangi batik buatannya bisa bertahan sampai empat tahun. Waris mengatakan, klaim itu dikatakan dosennya yang telah membuktikan sendiri. Dia mengatakan, batik hasil eksperimennya dia pajang di kampus empat tahun lalu, sampai sekarang batik itu masih wangi. Sedangkan batik gentongan (jenis batik premium, red) buatannya bisa bertahan hingga 50 tahun.

“Prosesnya panjang dan banyak sekali penderitannya. Yang terpenting, harus ulet. Kalau tidak, mungkin tidak akan tercipta batik aromatherapy. Saya percaya ini akan berhasil. walaupun banyak yang menyangka tidak akan berhasil,” tuturnya. (ulviyatun ni’mah)