Wiwik Kembangkan Batik dengan Empat Teknik

241
Wiwik Mariyati. (foto: Hamzah Afif Afandi/Derap Desa)

Motivasinya yang tinggi dalam mengembangkan batik membuat Wiwik Mariyati menekuni usaha batik. Dulu dia tidak memiliki pengetahuan sama sekali terkait batik, kini dia mengembangkan batik dengan empat teknik pembuatan. Seperti apa?

Jika menganggap motif batik dibuat hanya dengan canting, Anda salah. Ada banyak teknik pembuatan batik. Di antaranya adalah teknik ecoprint dan sibori. Wiwik Mariyati, perajin batik asal Kota Madiun adalah salah satu perajin batik yang menerapkan teknik tersebut. Wiwik yang mendirikan usaha batik dengan merk Dewi Anggraini mengatakan, teknik tersebut dipelajarinya dari pelatihan yang diadakan Pemkot Madiun pada tahun lalu.

Batik ecoprint menggunakan daun-daunan dalam membuat motif. Sebelumnya warna daun harus dikunci dulu menggunakan pewarna alam, yakni tawas, tunjung, atau air kapur. Tawas menghasilkan warna yang sangat muda, air kapur agak tua, dan tunjung menghasilkan warna paling tua. Jika menggunakan daun jati, Wiwik menggunakan air tawas karena warna yang ditimbulkan lebih bagus.

“Setelah daun jati dikunci, ditaruh ke batik. Ditutup, terus ditumbuk. Setelah itu diberi plastik agar warna tidak mbleber ke mana-mana. Kemudian kain digulung dan diberi bambu. Kita gulung dan ditali seperti membuat lontong. Lalu dikukus supaya warna daun jati dapat menempel di kain lebih kuat,” ujar Wiwik Mariyati menjelaskan langkah-langkah pembuatan batik ecoprint.

Sementara teknik sibori hampir mirip dengan batik jumputan. Untuk membuatnya, kain harus dilipat sesuai bentuk yang dinginkan. Setelah itu ada cetakannya, misalkan kayu berbentuk bintang atau segitiga, lalu dipres kemudian dicelupkan ke warna alam. Karena pembuatan yang relatif mudah, Wiwik bisa membuat delapan hingga 10 lembar batik sibori dalam sehari.

Sebelum menguasai dua teknik tersebut, Wiwik menguasai pembuatan batik pewarna alam dan pewarna sintetis. Keterampilan membuat batik tersebut juga ia pelajari dari pelatihan yang diadakan pemkot, yakni Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Pada 2015, dia memberanikan diri mendirikan usaha batik khusus pewarna alam.

“Awalnya nol. Cuma suami dulu pernah jadi perajin batik di Madura. Selain menambah keterampilan dan pendapatan, saya mendirikan usaha batik karena ingin mengenalkan batik ke orang asing. Kebetulan di rumah ada lembaga kursus bahasa asing,” tuturnya.

Dalam perjalanannya, Wiwik menyadari masyarakat belum mengenal banyak tentang batik pewarna alam. Warnanya lembut, bahkan tampak seperti mbladhus (pudar), namun memiliki harga yang cukup tinggi. Padahal mayoritas masyarakat menginginkan batik tulis yang bagus dan murah.

“Itu sangat memprihatinkan sekali. Prosesnya saja tidak cuma sehari atau dua hari, tapi minimal tiga hari, dari proses awal hingga akhir. Nyelup pewarnaan saja harus 10 kali. Saya pernah studi banding di Jogjakarta, satu lembar batik bisa dibuat sampai satu bulan. Harganya pun tinggi,” katanya.

Mengikuti keinginan pasar, Wiwik mulai mempelajari batik pewarna sintetis. Kini dia juga memproduksi batik pewarna sintetis meskipun tidak banyak. Dia memilih menekuni batik pewarna alam karena lebih ramah lingkungan.

Untuk pemasarannya, Wiwik mengandalkan pemasaran secara offline. Dia menjual produknya di lingkup Madiun dan dalam pameran-pameran yang diikutinya. Wiwik mengaku belum merambah pemasaran secara daring (online).

Berangan-angan ada Kampung Batik

Wiwik memproduksi batik-batiknya seorang diri. Dia belum memproduksi besar-besar karena mengaku sulit mengajak orang membatik. Mencari pembatik dari Kota Madiun sangat sulit. Jika pun ada, maka ongkosnya relatif mahal. Kebanyakan pembatik di kotanya lebih memilih pembatik dari Solo karena ongkosnya lebih murah.

“Di Madiun kesulitan mencari pembatik yang nyanting. Masih kecil sekali. Beda sama Jogjakarta atau Solo yang masyarakatnya di tiap rumah bisa nyanting,” kata Wiwik. “Saya punya angen-angen kota saya seperti Jogjakarta yang punya kampung batik. Nanti bisa jadi desa wisata,” imbuhnya.

Dia tidak menampik, membatik memerlukan ketelatenan. Namun, menurutnya yang terpenting adalah kemauan. Menurutnya, pemkot telah memberikan banyak pelatihan bagi masyarakat. Batik pun sudah digalakkan.

“Saya berharap Kota Madiun bisa menjadi sentra batik. Kalau wisata alam tidak mungkin karena kondisi alam tidak memungkinkan. Yang bisa diciptakan adalah SDM-nya. Kita perlu menyadarkan masyarakat agar batik bisa berkembang lebih bagus lagi,” tuturnya. (ima)

Data Usaha:

  • Nama usaha    : Dewi Anggraini Baik
  • Pemilik             : Wiwik Mariyati
  • Alamat            : Jl. Gambir Sawit Selatan No. 27 Sogaten Kota Madiun, Jl. Sri Agung No. 4 Kelun Madiun
  • Hp                    : 085235085263
  • WA                  : 085746084919
  • Email               : wiwikmariyati94.wm@gmail.com