MUSE dan GAIN Gelar Webinar Pola Asuh Anak di Era New Normal Melalui Pangan Lokal

78

SURABAYA – Situasi pandemi menjadi tantangan bagi semua sektor dan membutuhkan strategi-strategi yang inovatif untuk dilakukan.

Salah satunya persoalan yang juga terpengaruh, tentang memberikan makanan yang bergizi kepada anak-anak.

Koperasi Mahyra Utama Sejahtera (MUSE) bekerjasama dengan GAIN dengan dukungan DFAT mengelar webinar melalui selama dua hari, Kamis dan Jumat (27-28/5/2021).

“Rangkaian webinar ini MUSE sebagai bagian dari komitmen kami untuk berperan dalam pembangunan sumber daya manusia yang saat ini menjadi permasalahan, yaitu persoalan pemenuhan gizi anak untuk pencegahan stunting dan kurang gizi, ” ujar Wiwik Sulistyroini, koordinator promosi MUSE.

Webinar pertama mengambil tema mengenal Optifood dan bubuk tabur gizi Muvikid untuk pemenuhan gizi dengan pangan lokal. Sementara webinar kedua tentang optimalisasi pola asuh anak di era new normal.

Baca Juga  Serbuan Vaksinasi di Kecamatan Jambon, Polres Ponorogo Sasar Ponpes

“MUSE mengenalkan MUVIKID sebagai multivitamin dan mineral yang sudah sesuai dengan standar Permen Kemenkes RI No. 51 2016 tentang standar produk suplementasi gizi,” kata Wiwik.

Menurutnya, Muvikid sebagai solusi yang saling mendukung dengan program Taburia Kemenkes yang memiliki manfaat untuk mendukung tumbuh kembang anak.

“Melalui pemasaran sosial integrasi dengan sistem sosial di masyarakat, promosi dan pemasaran kami bukan hanya sekedar penjualan produk tetapi memiliki makna, edukasi, dan pemberdayaan di masyarakat. Dan bukan hanya di Jatim, tetapi juga di seluruh Indonesia. Bagi yang tertarik cek online kami di Muvikid.com,” tambah Wiwik.

Ilmia Fahmi, dosen Universitas Brawijaya Malang menjelaskan, Optifood merupakan aplikasi yang bisa digunakan para ahli gizi untuk melihat pangan lokal yang bisa direkomendasikan untuk masyarakat.

Baca Juga  Tim Panelis GAIN Kota Surabaya Pilih Dua MSC Story Bulan April-Mei

“Aplikasi ini dikembangkan Elaine Ferguson bekerja sama dengan WHO, sehingga memunculkan rekomendasi panduan gizi berbasis pangan lokal dan terjangkau. Hal ini karena kontekstualisasi lokal dari panduan gizi sering diabaikan,” jelasnya di hadapan 45 peserta di hari pertama.

Sementara, Ketua Koperasi MUSE, Ayu Sugiatiningsih menyatakan, kegiatan webinar yang diikuti lebih dari 130 orang ini didukung GAIN dan DFAT dengan mengandeng beberapa pihak. Yakni, Aisyiyah Jatim, Asosiasi Fasilitator Emo-Demo (ASFED), Universitas Brawijaya, dan Dinas Kesehatan.

“Kami berharap kegiatan ini akan memiliki manfaat bersama dan menjadi tanggung jawab kita bagaimana memberikan pola asuh yang baik kepada anak khususnya di era new normal saat ini,” ujarnya.

dr Sophiati Sutjahyani MKes, selaku pemateri dari Aisyiyah menyampaikan tentang pentingnya memberi ASI untuk anak selama dua tahun.

Baca Juga  Monitoring Emo-Demo, PKK dan Dinkes Surabaya Gelar Pertemuan Paguyuban Kader

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Itu menunjukkan bahwa dalam pola asuh anak kita harus memberikan ASI esklusif sebagaimana dalam Alquran surat al-Baqarah tersebut,” ucapnya.

Sementara itu, Annas Buannasita dari ASFED menambahkan, dalam pemberian makanan pendamping ASI harus memperhatikan usia, frekuensi, jumlah, tekstur, variasi, responsif, dan kebersihan. Selain itu juga suplementasi seperti MUVIKID.

“Responsif artinya adalah memberikan makan dengan penuh perhatian dan memperhatikan respons anak tanpa memaksa,” jelasnya.

Dia melanjutkan, dalam mengoptimalkan pola asuh melalui pemberian makan bayi dan anak terutama usia 6-59 bulan, terkadang nilai gizinya belum bisa memenuhi, maka solusinya adalah memberikan suplementasi seperti bubuk tabur gizi. (wwk/*)