Nyanggring, Tradisi Jamuan di Tlemang Yang Masih Lestari

553

Betapa kayanya negeri ini. Tak hanya sumber daya alam, namun juga seni budaya adat dan tradisi. Keberadaannya ada yang masih tetap lestari hingga kini namun tidak sedikit pula yang sudah punah.

Adalah tradisi jamuan atau makan bersama di Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, ternyata masih bertahan. Bahkan tradisi yang oleh warga setempat dinamakan sanggring atau nyanggring itu diperingati setiap tanggal 27, Bulan Jumadilawal.

Jamuan makan ini menyajikan masakan berbahan dasar ayam yang dimasak sederhana. Bahkan dengan bumbu seadanya berasal dari daerah setempat.

“Nyanggring ini untuk jamuan. Dulu ada prajurit, mengundang teman-temannya dalam jamuan makan, mengerahkan anak buahnya untuk memasak sanggring,” kata Aris Pramono, Kepala Desa Tlemang.

Nyanggring atau jamuan makan dengan masakan yang bernama sanggring, berbahan ayam hasil pemberian warga Tlemang. Setiap keluarga, memberi ayam beserta bumbu ‘jangkep’ dan kayu bakar. “Terserah yang ngasih, ayam jantan atau betina. Kalau dulu harus berwarna hitam, kalau sekarang tidak,” ujarnya.

Baca Juga  Awal B-Fest 12 Even, Kini 102 di Tahun 2021

Bahan sanggring itu dimasak oleh 40 laki-laki. Dan dimasak menggunakan tiga buah kenceng (wajan besar) peninggalan leluhur. “Harus dimasak laki-laki, karena nyanggring ini juga menjadi salah satu ritual penyucian. Lha, orang laki-laki ‘kan nggak punya hadas,” lanjut Aris.

Waktu matang lantas dibagikan, tak cuma pada penduduk setempat, namun warga luar Desa Tlemang juga berduyun-duyun datang. Mereka ingin mencicipi sanggring.

Sebab masakan sanggring yang berasal dari kata ‘sangkaning wong gering’ atau obatnya orang sakit ini menjadi santapan spesial satu tahun sekali bagi warga Tlemang dan sekitarnya. “Sanggring ini dipercaya bisa sebagai obat,” lanjutnya.

Budayawan Lamongan, Hidayat Eksan, yang membacakan sejarah singkat ritual mendhak atau nyanggring ini berhubungan dengan keberadaan tokoh sentral dalam sejarah Desa Tlemang, yakni Ki Buyut Terik. Nama Ki Buyut Terik itu merupakan gelar yang diberikan masyarakat karena kesaktiannya menumbuhkan batang pohon yang sudah kering.

Baca Juga  Tari Thengul Semakin Eksis

Ki Buyut Terik, pendiri Desa Tlemang, bernama asli Raden Nurlali, adalah keluarga Raja Mataram. Sekitar tahun 1677 meninggalkan Kerajaan Mataram karena merasa kecewa dan tidak senang, sebab ada campur tangan Kolonial Belanda terhadap Kerajaan Mataram.

Dalam pengembaraannya Ki Terik menuju ke Jawa Timur, mengabdi dan berguru pada Sunan Giri di Gresik. Oleh Sunan Giri, dia dipandang cakap setelah beberapa waktu menimba ilmu, maka Ki Terik (Raden Nurlali) diberi tugas menyebarkan agama Islam di daerah Lamongan.

Keberhasilannya dalam menyebarkan agama Islam dan menumpas penjahat di daerah Lamongan, akhirnya Raden Nurlati diangkat menjadi pemimpin masyarakat Desa Tlemang. Untuk meresmikan pengangkatannya, secara formal diadakan upacara wisuda pada
Bulan Jumadilawal tanggal 27. Pada acara ini dihadiri oleh Sunan Giri dan para tamu sahabat-sahabat Raden Nurlali.

Untuk menghormati para tamu yang hadir dalam wisudanya itu, maka Ki Terik mengerahkan warganya untuk menyajikan masakan sederhana dengan bumbu seadanya yang berasal dari daerah setempat. Oleh masyarakat setempat disebut sanggring.

Baca Juga  Raka Kab Pasuruan dan Raki Kab Malang Jadi Duta Wisata Jatim 2020

Kegiatan wisuda inilah oleh masyarakat setempat diberi nama selamatan sanggring dan dilestarikan hingga sekarang karena dipercaya dapat menjadi obat segala penyakit. Sedangkan maksud dan tujuan masyarakat Tlemang, adalah agar selalu
mendapat rahmat dan keselamatan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan, Ismunawan, mengapresiasi warga Tlemang yang masih tetap menjaga tradisi warisan leluhur. “Desa Tlemang telah meng-uri uri budaya. Itu patut kita apresiasi,” katanya.

Kegiatan uri-uri budaya ini, katanya, tetap berlangsung di tengah masuknya budaya dari luar. “Dengan begini yang tua mengajarkan budaya ke yang muda, jangan sampai semangat Ki Buyut Terik ini tidak menurun, maka kita peringati terus,” kata Ismunawan.

Menurut dia, uri-uri budaya nyanggring ini termasuk dalam objek wisata. Karena tidak hanya masyarakat Desa Tlemang yang hadir tapi juga desa lain. “Nilai luhur budaya harus kita pertahankan,” lanjutnya. (*)