“Selamat Jalan, Fren..”

264

Denny, sahabatku
Panggung malam ini adalah sesuatu
yang luar biasa
Tapi memang sangat layak buatmu
Berkumpul sebagian besar sahabat dan orang-orang hebat
Untuk melepas kepergianmu … “

Itulah sepenggal puisi perpisahan, yang disampaikan Ali Salim, wartawan senior eks Surabaya Post dan pendiri Harian Bhirawa untuk Alm. H. Nuryadi Abdullah, Pemimpin Umum Majalah Derap Desa yang berpulang pada Selasa, 10 Agustus 2021 lalu.

Puisi bertajuk “Surat untuk Sahabat” itu dibacakan Ali Salim dalam doa bersama untuk mengenang dan mendoakan almarhum H. Nuryadi Abdullah bin Imam Muhadi yang digelar secara virtual, Minggu, 15 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB.

Acara kirim doa ini dibuka dan dipandu langsung Pemimpin Redaksi Derap Desa, Alfi Yusron, M.IP. Pembacaan surat yasin dipimpin Kepala Bappeda Prov Jatim Ir. M. Yasin, M.Si dan dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan doa bersama oleh Drs. H. Hizbul Wathan, M.M.

Baca Juga  Turunkan Angka Kemiskinan, Jalin Matra Panen Penghargaan

Kepergian almarhum tak hanya meninggalkan duka mendalam bagi istri, empat putri, satu putra menantu, dan tiga orang cucu. Namun, juga bagi sahabat, kolega, serta rekan-rekan seperjuangan yang berasal dari sejumlah daerah di Indonesia.

Mereka semua pun hadir secara virtual untuk bersama-sama memanjatkan doa dan mengenang kepergian almarhum.

Tahlil dan doa bersama secara virtual untuk mengenang Alm. Abah DN.

Hadir di antaranya Dr. H. Soekarwo yang akrab disapa Pakde Karwo, Gubernur Jawa Timur selama 2008-2018 yang saat ini menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI. Hadir pula sahabat almarhum, yakni Prof. Hotman Siahaan, Sosiolog Universitas Airlangga Surabaya.

Dalam pandangan keluarga, almarhum merupakan sosok yang penuh tanggung jawab, perhatian, dan kasih sayang. Hal ini diakui Wuri Andamari, istri mendiang Abah DN—sapaan akrab almarhum di keredaksian Derap Desa—yang telah mendampinginya selama hampir 20 tahun.

Baca Juga  Para Sahabat Kenang 40 Hari Kepergian Abah DN

Prof. Hotman, sahabat karib Abah DN juga mengakui bahwa almarhum semasa hidupnya selalu riang, penuh canda tawa, dan tabah. Bahkan, dalam kondisi sulit sekalipun.

“Beban apapun, beliau selalu memiliki kemampuan untuk menertawakan semua persoalan yang ada. Ini yang saya sangat kagum,” ujarnya.

Kekaguman sahabat juga disampaikan Pakde Karwo. Pertama kali bersua dengan almarhum Abah DN pada 1995, Pakde Karwo menemukan sosok pemuda yang konstruktif dan mampu memandang segala hal dengan positif. Bahkan, Pakde Karwo juga menjuluki almarhum sebagai wartawan yang humanis.

Pakde Karwo saat mengenang Alm. Abah DN.

“Mas Denny memiliki kemampuan, kepekaan, dan kecerdasan sebagai wartawan dalam meng-organize dan meneliti informasi,” tutur Pakde Karwo tentang kesan-kesannya terhadap almarhum.

Pakde Karwo mengungkapkan, nilai kepekaan sebagai wartawan yang dimiliki almarhum kemudian menginisiasi lahirnya jaringan grassroot ‘Polo Pendem’ (Poldem). Dijelaskannya, Poldem merupakan sebuah ruang publik kemasyarakatan yang dinilai ‘gelap’ dari informasi yang kemudian dimunculkan dan dapat diajak berkomunikasi.

Baca Juga  Sukses Pertahankan Kelurahan Zona Hijau, 'Mas Kawino': Warga Terapkan PHBS

“Embrionya adalah kegelisahan Mas Denny, Prof. Hotman, dan para media. Di bawah itu ada mampet informasi. Ketelitian dan kecerdasan dalam menangkap sesuatu itulah yang memberikan nilai tambah kehidupan kemediaan yang saya tangkap dari beliau,” tegas Pakde Karwo.

Dia pun mengaku belajar dari sosok almarhum, bahwa seseorang itu harus menjadi humas bagi dirinya sendiri.

“Beliau orang yang memberikan masukan yang baik terhadap cara berkomunikasi. Karya yang paling besar menurut saya adalah Polo Pendem itu. Memberikan informasi kepada kelompok yang mampet informasi terhadap jalur informasi ke bawah,” tukas Pakde Karwo.

Duka mendalam dan rasa kehilangan keluarga, sahabat, kolega serta rekan seperjuangan pun mengantar ‘sang bapak’ ke peristirahatan.

“Selamat jalan Den,
Kita semua akan berjalan ke arah yang sama
Pelan tapi pasti
Tujuan kita cuma satu
Mengharap Ridho Ilahi.”

(nur hayati)