Seniman Bersama Pesilat Ponorogo Kembali Promosikan Seni Budaya Ke Mancanegara

439
Penampilan pesilat Ponorogo di Baku, Azerbaijan. Foto-foto: Nurkholis/derapdesa.id

AZERBAIJAN – Acungan jempol layak diberikan kepada sejumlah seniman dan pesilat di Kabupaten Ponorogo, Jatim. Pasalnya Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Ponorogo kembali memberangkatkan 6 atlet ke Azerbaijan dalam rangka Indonesian Culture Festival ke-4 tahun 2019 yang diadakan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Baku, Azerbaijan pada tanggal 11-15 September 2019.

Wisnu Hadi Prayitno, salah satu pesilat sekaligus koreografer warga Desa Somoroto, Kecamatan Kauman, Ponorogo yang menjadi duta Indonesia dalam acara tersebut menyampaikan bahwa acara Opening Indonesian Cultural Festival ke-4 berjalan lancar walaupun membutuhkan tenaga ekstra. “Semangat para pendukung event, antusiasme masyarakat Azerbaijan, dan para tokoh hebat tadi malam menghilangkan rasa capek dalam proses perjalanan yang sangat panjang,” terang Wisnu Hadi Prayitno atau Wisnu HP,¬† Kamis (12/9/2019).

Rombongan sempat berkenalan dengan Atase Pertahanan Republik Indonesia di Baku, Azerbaijan, Kolonel Marinir Harwin Dicky Wijanarko. “Pak Harwin adalah sosok yang selalu murah senyum, beliau adalah satu diantara putra terbaik Indonesia dari Madiun, menyempatkan berdiskusi dengan beliau yang sangat asyik dan Insya Allah ada gagasan-gagasan di kemudian hari terkait strategi kebudayaan,” jelasnya.

Baca Juga  Nyanggring, Tradisi Jamuan di Tlemang Yang Masih Lestari

Hari pertama aksi panggung putra-putri terbaik Bumi Reyog di Azerbaijan berjalan lancar. Menurutnya masih banyak ruang untuk dia eksplorasi hingga 19 September nanti. “Terimakasih kami ucapkan kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga melalui Asisten Deputi Industri dan Promosi Olahraga Bapak Sandi Suwardi Hasan,” imbuhnya.

Pihaknya juga mengucapkan terimakasih kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia yang telah mendukung PSHT Cabang Ponorogo, dalam mempresentasikan sebuah karya seni yang merupakan kolaborasi pencak silat dengan Kesenian Reyog Ponorogo.

Keberangkatan seniman dan pesilat asal Kabupaten Ponorogo tersebut juga sebagai langkah memperkenalkan seni budaya Indonesia, khususnya Ponorogo. “Ini juga merupakan misi pelestarian dan pengenalan budaya asli dari Indonesia yang berasal dari Kabupaten Ponorogo,” imbuhnya.

Kehadiran rombongan warga Ponorogo di Azerbaijan langsung disambut dengan hangat oleh Dubes KBRI Baku, Prof Dr H Husnan Bey Fananie, M.A yang juga cucu dari pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Dalam penggarapan karya tersebut, Wisnu Hadi Prayitno sebagai koreografer memadukan seni pencak silat dan kesenian Reyog Ponorogo.

Baca Juga  Gubernur Dikukuhkan Jadi Keluarga Kehormatan Masyarakat Samin

Selain itu menurutnya, karakter Warok Ponorogo dipilih sebagai penggambaran sosok yang dikenal sebagai seseorang yang “menguasai ilmu” (ngelmu) dalam pengertian Kejawen, dalam hal ini adalah ilmu kanuragan. “Tentunya ini adalah wujud nyata Masyarakat Ponorogo dalam mendukung Pencak Silat untuk UNESCO sebagai Warisan Dunia Tak Benda dan menjadi bagian bidang olahraga di perhelatan Olimpiade,” tandasnya.

Pada pertunjukannya di kali ke-2 ini, sebuah harapan besar di masa yang akan datang, kerjasama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga beserta Kedutaan Besar Republik Indonesia di Baku, Azerbaijan akan terus terjalin. “Serta mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Ponorogo dalam rangka peningkatan mutu, pelestarian budaya, dan promosi Kesenian Reyog di Tingkat Internasional sebagai upaya mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai Warisan Dunia Tak Benda atau intangible cultural heritage of humanity,” tukasnya. (nurkholis)